Followtheline
Maret 16, 2008 at 12:01 am Tinggalkan Komentar
bismillahirrahmanirrahim
: sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah pena, dan Alloh memerintahkannya untuk menulis segala sesuatu yang akan terjadi (HR. Abu Ya’la 1/126, Baihaqi dalam Asma’ was Shifat hlm. 271, lihat ash-Shohihah: 133)
hanya atas karunia Alloh-lah, maka dihadapan antum tersaji sebuah metode pendekatan ‘baru’ yang akan menuntun kita untuk lebih mengakrabi al-Quran al-Kariim secara lebih mudah. gagasan metode menulis al-Qur’an yang kemudian kami namakan dengan metode follow the line ini patut disykuri kehadirannya (hak cipta pada depkumham ri bulan nopember 2007) sebab disamping kita dipilih Alloh untuk bertemu dengan gagasan ini, juga lantaran efektivitasnya dapat diandalkan, insyaalloh.
Secara motorik, kemampuan menulis akan dengan sendirinya terbentuk tak sampai dari separuh dari kitab ini. Seseorang akan dengan mudah memahami apa dan bagaimana tulisan arab yang dipakai sebagai ‘kendaraan’ oleh Alloh Swt. untuk menyampaikan firmanNya itu. sebab ketika seseorang menulis, akan terjadi sebuah hubungan dialektik antara realitas visual teks tulisan tersebut dengan kemampuan motorik yang kesimpulan dari hubungan itu akan tersimpan dalam memori kita masing-masing. Inilah yang dikemudian hari (akan) disebut sebagai ‘kemampuan’.
Dengan cara tersebut pula kita tak perlu melalui pembelajaran teori yang njilmet ataupun menempuh rentang waktu lama untuk sampai pada pemahaman atas ‘tulisan arab’ (baca: tulisan al-Qur’an) itu.
Yang tersaji di hadapan antum adalah dua model (bentuk) yaitu, pertama; buku sarana belajar menulis al-Qur’an turutan: isinya berupa latihan dasar bagaaimana menulis huruf arab dengan benar serta dilanjutkan dengan menulis juz Amma tetapi dimulai dari bawah yaitu surat an-Nas. khusus untuk versi pengantar ini memang sengaja dibalik seperti turutan jaman dulu, karena orientasinya lebih pada pelatihan kemampuan motorik menulis huruf al-Qur’an.
ke-dua; buku sarana menulis al-Qur’an yang merupakan lanjutan dari tahap pertama, dimana satu (1) mushaf al-Qur’an dibagi dalam 16 jilid untuk mempermudah proses penulisan dan tashih.
fakta bahwa setelah seorang anak yang sudah bisa membaca al-Qur’an dengan tartil namun tidak dengan sendirinya diikuti oleh kemampuan menulis dengan benar menjadi sebuah masalah tersendiri bagi pendidikan pasca TPQ. Dengan demikian, kehadiran buku (metode) ini bisa menjadi ‘jawaban’ atas persoalan yang sejauh ini belum terlihat ada pemecahannya itu.
semoga niat baik kita menulis al-Qur’an ini tercatat oleh Alloh sebagai salah seorang ‘hafidz‘ yang menjaga otentisitas al-Qur’an. Amin
Entry filed under: Pendahuluan. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed